Bagi sesetengah orang, terminologi “Cinta itu tak harus memiliki” adalah kata-kata bagi orang yang telah kalah dan bagi kaum yang cintanya ditolak. Yeah, suka atau tidak, itu memang milik orang yang telah mengalami kasih tak sampai. Tapi, kali ini, marilah kita merenungkan terminologi itu dengan agak sedikit dewasa (halah.. sok bijak.. sok dewasa).
Apakah benar, rasa sayang dan cinta itu harus memiliki? Apakah untuk menyayangi orang yang kita cintai, maka kita harus menjadi kekasihnya? Jika perasaan ketika menjadi kekasih, sewaktu masih dalam waktu perkenalan dengan perasaan ketika kita disakiti kerana cinta ditolak berbeza, itu adalah kasih sayang TIPU. Rasa sayang itu hanyalah diadakan agar kita mendapatkan balasan sayang juga. Dan secara hukum, itu bisa dikategorikan sebagai penipuan terencana (halah, sok serius pulah).
Cinta dan sayang yang ideal tentunya adalah ikhlas. Cinta adalah memberi dan berkorban tanpa mengharapkan balas apapun dari sang kekasih. Pengorbanan, tentu saja bukan hanya pengorbanan waktu, tenaga, dan material, namun seringkali yang terasa sangat sakit adalah korban perasaan. Bayangkan, mampukah engkau tersenyum bahagia di saat sang kekasih memperkenalkan kekasihnya kepadamu, menjabat tangannya dengan hangat dan berkata, “Assalamu’alaikum warahmatullah…“, semoga rahmat Allah tetap ada padamu! Mampukah engkau merasa bahagia melihatnya berbahagia bersama orang pilihannya?
Ah, tentu saja hal itu amat sulit dilakukan. Kita hanyalah manusia biasa yang punya cita2 dan motivasi. Apapun yang kita lakukan, tentu ada upah meskipun sekecil pasir. Jika tak ada upah, lalu apa motivasi kita melakukan itu? Hanya karena sayang? Yakin? Apakah benar kita tidak mengharapkan untuk kembali kepada kita suatu hari nanti? Apakah benar kita tidak mengharapkan untuk mendapatkan senyum manisnya? Karena senyum manis itulah yang rasanya bisa mengobati luka-luka meskipun sebentar….
Namun demikian, aku tetap yakin bahwa cinta yang ikhlas itu tetap ada. Parameternya, jika kamu tetap menyayanginya, tetap baik padanya, tetap membantunya ketika ia memerlukan pertolongan, itu artinya kamu bisa dikatakan telah ikhlas. Lepas dari berapa besar korban perasaan yang kamu derita. Terlepas berapa lebar luka yang terkoyak di hatimu. Namun jika engkau telah tersenyum tatkala melihat orang yang kau cintai itu berbahagia, aku yakin, itulah cinta tanpa balasan itu.
Nah, setelah ini, akan muncul pertanyaan, apakah dengan kita tetap menyayanginya, itu berarti dia tetap ada di hati? Dan itu artinya tidak adil untuk seorang yang baru masuk ke dalam kehidupan? Karena cinta kepadanya akan terbagi dengan cinta masa lalu?






